Selamat datang di BTMEPPO - BPPT (Balai Teknologi Mesin Perkakas, Produksi dan Otomasi - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi)
 

 


Tiga syarat fundamental yang harus dimiliki Indonesia agar menjadi negara maju dan berhasil:

memperkuat kemandirian, mempertinggi daya saing dan membangun peradaban bangsa.

(Pidato Presiden RI pada perayaan 100 tahun hari kebangkitan Nasional: Indonesia Bisa)



Latar Belakang

 

Dua dari tiga syarat fundamental yang harus dimiliki Indonesia agar menjadi negara maju seperti dikemukakan diatas, yaitu kemandirian dan daya saing sangat terkait dengan program pengembangan Laboratoria Balai Mesin Perkakas, teknik Produksi dan Otomasi (MEPPO) – BPPT. Awalnya MEPPO dirintis sejak awal dekade 80, dimana pada saat tersebut, industri memasuki a new age of global competitiveness. Agar tetap bertahan dan berkembang, industri termasuk industri manufaktur Indonesia harus meningkatkan daya saingnya dengan mencari kiat agar proses transformasi input menjadi output pada sistem produksinya yang secara umum tergambar pada gambar 1, menjadi lebih effisien dan effektif (produknya lebih baik, lebih murah dan lebih cepat penyerahannya).

 

 

           Gambar 1: Sistem Produksi

 

Salah satu kata kunci dalam menghadapai era globalisasi adalah kemandirian penguasaan teknologi yang diantaranya dibidang teknologi produksi khususnya Mesin Perkakas, Teknik Produksi dan Otomasi. Ketergantungan yang tinggi pada teknologi luar negeri menyebabkan ketergantungan akan komponen dari luar negeri dan tenaga ahli asing. Hal ini akhirnya mengakibatkan tidak efisiensinya sebuah proses produksi dan menyebabkan rendahnya daya saing industri Indonesia dikarenakan tingginya biaya investasi. 

 

 

 

 

Situasi ketergantungan teknologi pada luar negeri terlihat pada gambar 2. Gambar diatas memperlihatkan bahwa industri Indonesia hanya berpartisipasi (dengan market share ≥ 2%) pada sektor pengolahan sumber daya alam dan hampir sama sekali tidak berpartisipasi pada industri yang tingkat pertumbuhan dan nilai pasar ekspornya tinggi terutama permesinan. Mengingat untuk mengolah sumber daya alam memerlukan peralatan permesinan sebagai barang modal dan alat produksi, maka hal ini secara total menimbulkan negative-inflow investment.

 

Untuk menjawab tantangan diatas, maka penguasaan teknologi produksi terutama teknologi pemesinan harus dapat dikuasai secara mandiriDengan latar pemikiran diatas, Balai Mesin Perkakas Teknik Produksi dan Otomasi atau MEPPO dirintis keberadaannya sejak tahun 1980 sebagai bagian dalam rangkaian proses transformasi teknologi Prof. B.J. Habibie yang dikenal dengan konsep "berawal diakhir dan berakhir diawal”. Kaitan antara pengembangan MEPPO dengan 4 tahap transformasi teknologi digambarkan secara ilustrative pada gambar 3, dengan mengambil contoh pengembangan industri pesawat terbang dan SKSD sebagai wahana tranformasi teknologi.

 

 

                                     Gambar 3: Pengembangan MEPPO dan 4 Tahap Transformasi Teknologi

 

Seperti diperlihatkan pada gambar 3, pengembangan MEPPO didesain untuk mendukung tahap III proses transformasi teknologi yaitu pengembangan produk. Oleh karena itu, tidak seperti Laboratoria BPPT yang dibangun terdahulu seperti LUK, LAGG dan BTMP yang merupakan Laboratoria pengujian, maka MEPPO merupakan Laboratoria Pengembangan Produk.

 

Sejarah Pengembangan MEPPO

Pengembangan MEPPO diawali dari kunjungan MNRT / Kepala BPPT Prof. B.J. Habibie ke Berlin untuk menghadiri peresmian institusi serupa diawal tahun1980-an. MNRT / Kepala BPPT menugaskan Prof. Sri Hardjoko (penasihat teknis MNRT / Kepala BPPT) untuk memikirkan konsep pendirian MEPPO dengan mengambil model seperti di TU-Berlin tetapi memperhatikan keadaan spesifik Indonesia. Sebagai penanggung jawab pendiriannya ditunjuk Deputi Ketua Bidang Pengkajian Industri.

 

Selanjutnya pada tahun 1986 dimulai pengembangan MEPPO dikaitkan dengan pemikiran MNRT / Kepala BPPT untuk membangun kawasan PUSPIPTEK II di Bandung. Selain MEPPO, akan ditempati pula oleh Laboratoria Mikroelektronika, Pengetahuan Bahan dan Bio-teknologi. Paralel dengan kegiatan pencarian lahan, persiapan SDM dimulai pada tahun1987 dengan merekrut 8 (delapan) orang alumni Jurusan Teknik Mesin – ITB sebagai embrio dan ditugaskan khsusus untuk program MEPPO. Proses rekrutmen dilanjutkan sampai beberapa tahap, dan batch pertama pengiriman SDM tugas belajar keluar negeri dilakukan pada tahun 1989.

 

Upaya untuk mendapatkan lahan PUSPIPTEK II di Bandung mengalami banyak kendala. Sampai akhir tahun 1996, pencarian lokasi PUSPIPTEK II masih belum menentu. Untuk mengatasi ketidakpastian lokasi yang telah berlangsung lebih dari 10 tahun, maka diadakan evaluasi ulang terhadap kebijakan pembangunan MEPPO di Bandung. Dari hasil evaluasi ini, terutama setelah mendengarkan keterangan resmi Ketua Direksi PUSPIPTEK – Serpong tentang ketersediaan tanah atau gedung di Serpong, maka MNRT / Kepala BPPT pada bulan Oktober 1996 memutuskan pengembangan MEPPO dialihkan ke PUSPIPTEK – Serpong.

 

Dengan adanya keputusan diatas, maka disediakan gedung eks-LET di Puspiptek Serpong sebagai tempat bekerja sementara menunggu pembangunan gedung baru MEPPO yang akan direncanakan kemudian pada lokasi yang telah disediakan. Tetapi karena krisis moneter yang menimpa Negara kita pada tahun 1997, menyebabkan rencana ini tidak dapat berjalan. Semua rencana anggaran pengadaan peralatan ditunda dan pembangunan gedung baru tidak diizinkan. Kondisi ini memaksa proses pemindahan MEPPO ke Serpong tertunda, untuk sementara MEPPO dititipkan pada Direktorat Pengkajian Industri Mesin dan Elektronika (PIME) kedeputian Pengkajian Industri.

 

Secara legal formal, MEPPO diresmikan oleh Ibu Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri menjadi satuan kerja UPT Eselon III (Balai) bersama 8 Laboratoria lainnya pada tanggal 4 April tahun 2001. Sejak saat itu pengembangan MEPPO di Puspiptek – Serpong dilaksanakan lebih intensif. Pada Phase ini, telah dirumuskan Visi MEPPO 2020, misi, rencana strategis dan program kerja jangka menegah. Kemudian diformulasikan pula rencana pengembangan sumber daya manusia berdasarkan konsep Job Establishment & Grading System (JEGS) serta ditetapkannya sistem tatakelola kegiatan yang bersifat ”industrial type work” dan “corporate values” MEPPOKepala Balai MEPPO yang pertama adalah Dr. Ir. Erzi Agson Gani, M. Eng (menjabat sebagai Deputi Bidang TIRBR periode 2012-2017, setelah sebelumnya menjabat Direktur PTIM), beliau memimpin Balai MEPPO periode 2001-2009. Kepala Balai MEPPO selanjutnya dijabat oleh Dr. Dipl. -Ing. Michael Andreas Purwoadi, DEA tepatnya sejak Agustus 2009 sampai dengan November 2015, saat ini Dr. Dipl. -Ing. Michael Andreas Purwoadi, DEA menjabat sebagai Direktur PTIK .

Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi nomor 026 tahun 2015 Balai MEPPO berubah menjadi BT MEPPO Saat ini Kepala Balai BT MEPPO dijabat oleh Ir. Teddy Alhady Lubis, M.Eng yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Laboratorium Otomasi Balai MEPPO.

 

Kepala Balai MEPPO

 

                                                               
Kompetensi Teknologi

 

Terdapat beberapa teori dan metoda untuk meningkatkan produktivitas dan effisiensi sistem produksi. Konsepsi yang digunakan BT MEPPO adalah melalui unsur-unsur inputnya yaitu mesin perkakas dan metoda proses produksi serta melakukan integrasi, kontrol dan otomasi proses produksi. Dengan demikian, yang menjadi kompetensi inti BT MEPPO adalah Perekayasaan Teknologi Mesin Perkakas, produksi dan otomasi. Berdasarkan kompetensi inti ini, BT MEPPO mempunyai tugas melaksanakan pengkajian dan pengembangan teknologi mesin perkakas,  produksi dan otomasi serta pelayanan teknologi sebagai wahana penerapan teknologi.

 

 

 

Hubungi Kami

Alamat :
Klaster Teknologi Produksi, Maritim dan Transportasi
Kawasan PUSPIPTEK
Serpong Tangerang Selatan,
Banten - 15314, Indonesia


Office :
Gd. Teknologi 2 BPPT No. 251 Lt. 2

Workshop dan Lab :
Gd. Balai Teknologi MEPPO-BPPT No. 250

Statistik Pengunjung

Hari ini19
Kemarin92
Minggu ini851
Bulan ini4798
Total39955